Menolong Anak Yang Bermasalah Di Sekolah #Cara Mendidik Anak

Masalah perilaku anak di sekolah, seringkali berakar pada gangguan emosional (emotional disturbance). Sayangnya, tidak banyak guru yang cukup diperlengkapi untuk menangani gangguan ini sehingga berkembang menjadi masalah perilaku yang mengganggu proses pembelajaran anak tersebut ataupun anak lain di kelas. Kondisi seperti itu berpengaruh negatif terhadap perkembangan anak. Sebagai panduan identifikasi, bila kondisi berikut berlangsung dalam periode yang cukup lama maka perlu diwaspadai karena dapat merupakan indikasi anak mengalami gangguan emosi.   Masalah Perilaku Eksternal Suasana hati didominasi oleh kemarahan atau kesedihan, cenderung menimbulkan gangguan pada pihak lain, misalnya perilaku agresi, melanggar peraturan dan instruksi, hiperaktif ataupun kurang konsentrasi.   Masalah Perilaku Internal Didominasi oleh kecemasan atau depresi. Kecemasan berupa: penolakan untuk masuk sekolah, sikap pemalu yang berlebihan, ataupun gejala fisik yang somatik misalnya sakit perut atau sakit kepala. Dari depresi berupa: kesedihan, kelelahan yang berlarut, berkurangnya minat terhadap hal yang sebelumnya disukai, serta mudah tersinggung.   Bila anak menunjukkan minimal salah satu dari kondisi di atas, maka sebaiknya orangtua bekerja sama dengan pihak sekolah serta pihak lain yang diperlukan, misalnya konselor atau dokter untuk melakukan evaluasi terhadap anak. Evaluasi diperlukan untuk mengetahui masalah apa saja yang ada saat itu, memprioritaskan penanganan serta mendapatkan gambaran yang menjadi titik referensi untuk mengukur perkembangan anak. Ada konteks dimana pengasuh utama pada anak adalah kakek, nenek, paman atau bibi. Kata orangtua dalam konteks ini perlu dimaknai secara...

Persahabatan Pada Anak Balita #Cara Mendidik Anak

Persahabatan dengan individu lain yang sebaya merupakan kebutuhan yang bersifat dinamis. Ketika masih bayi hingga usia dua tahun, anak relatif tidak terlalu memerlukan persahabatan dikarenakan hubungan anak hanya terfokus pada orang dewasa yang merupakan pengasuh utamanya. Bila berada dalam keadaan nyaman, umumnya bayi cukup senang untuk bermain sendiri, mengeksplor dunia sekitarnya baik secara kognitif maupun emosional. Kebutuhan akan persahabatan dengan individu lain yang sebaya umumnya terbentuk ketika anak memasuki usia 2 – 3 tahun, dimana ia mulai menikmati bermain bersama individu lain dan mulai mengembangkan ketrampilan sosialnya. Pada masa ini, hubungan sosial anak dengan teman sebayanya cenderung merefleksikan kualitas hubungannya dengan pengasuh utamanya. Bila anak memiliki hubungan yang harmonis dengan pengasuh utamanya, ia cenderung dapat memiliki hubungan yang harmonis dengan teman sebayanya. Ketrampilan sosial lain yang juga mulai berkembang pada masa balita adalah kesediaan untuk berbagi mainan. Untuk dapat bermain bersama dengan harmonis, perlu ada kesediaan dari anak untuk mengurangi kelekatan dan kontrol terhadap mainannya serta bersikap toleran terhadap kreativitas temannya, sehingga dapat berkolaborasi dengan teman bermainnya. Ketrampilan sosial yang baik akan memudahkan terbentuknya persahabatan di antara anak balita. Kegiatan bermain bersama yang dilakukan cukup sering akan membangun kedekatan emosi yang merupakan fondasi bagi terbentuknya persahabatan pada anak balita. Sudah siapkah balita anda untuk membangun persahabatan dengan teman...

Remaja & Konsep Diri #Cara Mendidik Anak

Masa remaja merupakan masa transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa. Masa ini dimulai di sekitar usia 9 tahun dimana anak memasuki masa rewaja awal (pra-remaja), kemudian beranjak ke remaja tengah di sekitar usia 13 tahun, dan berpindah ke masa remaja akhir di sekitar usia 18 tahun. Masa remaja umumnya didominasi oleh perkembangan biologis, kognitif, sosial, serta emosional, yang bila tidak tertangani dengan baik, dapat menimbulkan masalah di masa dewasa. Dari segi kognitif, kemampuan berpikir remaja memasuki tahap formal operational sehingga umumnya mereka sudah mampu untuk berpikir secara logis maupun abstrak, serta dapat mengeksplorasi pemecahan masalah dengan cukup baik. Akan tetapi, karena pada masa ini kemampuan berpikir mereka sangat diwarnai oleh keinginan untuk diperhatikan, umumnya pemikiran mereka terpusat pada dirinya sendiri (egosentrik). Di masa ini mereka mulai membentuk identitas diri serta penilaian terhadap dirinya. Selain penilaian yang kurang terhadap penampilan fisik, kurangnya kompetensi pun dapat membentuk konsep diri yang negatif pada remaja yang termanifestasi pada perasaan rendah diri, sensitivitas yang berlebihan, sikap yang defensif, serta ketidakmampuan untuk menangani tekanan dengan baik. Untungnya, konsep diri sesuatu yang bersifat dinamis yang dapat berubah seiring dengan berjalannya waktu. Peran orangtua sangat besar dalam pembentukan konsep diri remaja. Hal pertama yang dapat dilakukan orangtua adalah mengasihi dan menerima sang remaja apa adanya secara konsisten hal tersebut akan menjadi senjata ampuh remaja untuk melawan penilaian diri yang negatif. Hal kedua yang dapat dilakukan adalah menjadi contoh yang baik bagi remaja, orangtua dapat secara konsisten menampilkan pola pikir positif, kemandirian, serta pengendalian emosi yang baik. Karakter tersebut akan tertanam juga pada remaja sehingga berdampak positif bagi pembentukan konsep diri...

Ketika Suasana Hati Anak Tidak Enak…. #Cara Mendidik Anak

Menangani suasana hati anak yang tidak enak merupakan tantangan yang cukup sering dihadapi oleh orangtua yang mengakibatkan munculnya konflik antara orangtua dengan anak ataupun antara anak dengan kakak/ adiknya. Hal tersebut dikarenakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi dan keinginannya baru berkembang secara penuh ketika ia memasuki usia 18 tahun. Oleh karena itu, anak yang berusia di bawah 18 tahun cenderung lebih mementingkan diri sendiri. Ketika seorang anak membuat anggota keluarga lainnya terganggu, seringkali hal tersebut disebabkan oleh adanya pikiran atau perasaan yang saat itu sedang mengganggu anak, seperti perasaan bosan, keletihan fisik, ataupun keinginan untuk mendapatkan perhatian dari orangtua, walaupun perhatian orangtua tersebut dalam bentuk negatif (teguran atau omelan). Dalam kondisi demikian, sesungguhnya yang dibutuhkan anak adalah perhatian yang positif dari orangtua. Satu hal yang penting untuk diingat oleh orangtua ketika mendengarkan anak yang suasana hatinya sedang tidak enak adalah untuk tidak terlalu sensitif dalam memaknai apa yang dikatakan anak, karena umumnya anak akan menyalahkan orangtua atas hal yang mengganggunya. Bila situasi menjadi memanas, sebaiknya orangtua mengambil inisiatif untuk mundur dari konflik karena kemampuannya untuk mengendalikan emosi lebih besar dibandingkan anak. Selain mendengarkan anak secara aktif, orangtua juga dapat menolong anak untuk menemukan aspek positif (sekecil apapun) dari apa yang mengganggu hati/pikirannya serta mengeksplor berbagai alternatif solusi. Salah satunya dengan mengalihkan fokus perhatian anak dengan cara mengajaknya bermain, makan makanan favoritnya, berjalan-jalan, ataupun menonton film...

Menangani Tuntutan Egoistik Anak #Cara Mendidik Anak

Sebagai orangtua, tentu kita tidak ingin anak kita berperilaku egois, menuntut berbagai hal langsung berjalan seperti yang ia inginkan. Pertama dan terutama orangtua sebaiknya tidak menuruti tuntutan anak, walaupun akibatnya, kondisi dapat berkembang menjadi tidak nyaman bagi orangtua. Karena, bila orangtua lebih mementingkan kenyamanannya dan terus-menerus memenuhi tuntutan anak yang egoistik, kemungkinan besar anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang juga egois. Bila anak menuntut secara egoistik, orangtua justru perlu menolong anak untuk belajar bahwa sikap tersebut tidak akan mendatangkan apa yang ia inginkan dan dengan tegas menolak memenuhi tuntutan anak. Bila sebagai akibatnya anak menjadi marah atau bahkan tantrum, orangtua sebaiknya tidak usah terlalu memberikan perhatian. Namun melakukan hal itu saja tidaklah cukup. Setelah anak tenang, orangtua sebaiknya menyepakati dengan anak jadwal untuk mendiskusikan apa yang diinginkan anak. Pada saat diskusi tersebut, orangtua dapat memberikan pengertian kepada anak bahwa memiliki keinginan adalah hal yang wajar, namun setiap keinginan perlu disampaikan dengan cara yang menghormati perasaan orang lain. Selain hal di atas, orangtua perlu mengevaluasi sikapnya sendiri, untuk memastikan bahwa ia mencontohkan sikap yang baik kepada anak, bukan mencontohkan keegoisan. Semua cara penanganan tersebut perlu dilakukan orangtua secara konsisten, agar anak tidak bingung. Pada prinsipnya, semakin dini orangtua melatih anak untuk tidak bersikap egoistik, akan semakin memudahkan orangtua untuk mendidik anak...

Founder Excellence Vault

Ellen Patricia adalah seorang pembicara, penulis, konselor, coach & konsultan di Bank Dunia. Sejak menekuni bidang coaching, konseling & cara mendidik anak, ia telah menyelenggarakan serta menjadi nara sumber di lebih dari 170 training & seminar & mempublikasikan lebih dari 90 artikel. Selain memimpin Yayasan Busur Emas, Excellence Vault Training & Consulting, MyFriend Counseling & Psychological Test Center, ia juga mengasuh halaman parenting di majalah Family Guide & majalah Inspirasi sejak tahun 2011. Selain itu, ia juga memiliki talkshow mingguan “Parenting With Heart” setiap Sabtu pkl 07.00-08.00 Wib di Radio Heartline 100.6 FM & “Family Talk” setiap Kamis pkl 19.00 - 20.00 Wib di Star Radio 107.3 FM. Ia juga menjadi narasumber tetap bulanan di talkshow “Hope for the Heart” di hari Jumat pkl 18.00-19.00 Wib di radio Heartline 100.6 FM juga talkshow bulanan “Kesehatan Jiwa” di radio RPK 96.3 FM di hari Selasa pkl 10.00-11.00 Wib. Di tahun 2015 ia meluncurkan program Sertifikasi profesi bagi para Konselor dan Trainer di bidang Konseling di Indonesia.

Kisah keberhasilannya yang inspiratif telah membuatnya diliput dalam buku “Srikandi-Srikandi Indonesia 2012 – Mahakarya Wanita Bangsa”. Latar belakang Ellen Patricia sangat unik. Sebelum terjun ke dalam dunia konseling & cara mendidik anak, ia adalah seorang profesional yang sukses di bidang properti. Ia adalah lulusan dari S1 Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) & S2 Arsitektur di National University of Singapore (NUS). Ia juga sempat bekerja selama beberapa tahun sebagai arsitek di salah satu BUMN Singapura & ketika kembali ke Indonesia, ia menjabat sebagai Kepala Divisi di salah satu perusahaan properti swasta terbesar di Indonesia.

Sebagai seorang yang tidak pernah berhenti mengembangkan diri, di tahun 2016 ini Ellen Patricia menjadi salah satu anggota dari International Coach Federation (ICF). Selain itu, di tengah berbagai kesibukannya, pada April 2016 Ellen Patricia menerbitkan buku parenting perdananya berjudul "Mendidik Anak Dengan Hati". Saat ini ia juga sedang mengikuti proses sertifikasi profesi Coaching berskala internasional untuk lebih mempertajam keterampilan coachingnya.